Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari
bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar
bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah
bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah
bin Husein bin Abdullah bin Syaikh
bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark
bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al FaqihMuqaddam
bin Ali Faqih Nuruddin
bin Muhammad Shahib Mirbath
bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi
bin Muhammad Maula Shama’ah
bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah
bin Imam Ahmad Al Muhajir
bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq
bin Al Imam Muhammad Al Baqir
bin Al Imam Ali Zainal Abidin
bin Al Imam Sayyidina Husein
bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.
Menurut Mufti kerajaan indragiri Abdurrahman Siddiq, berpendapat bahwa ia adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao.
- LAHIR : di Lok Gabang, 17 Maret 1710M
MENIKAH : dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut
PENDIDIKAN : usia sampai 30th dibina di istana Sultan Tahlilullah (sebelum menuntut ilmu ditanah suci mekkah)
setelah itu beliau berguru dengan Syekh ‘Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi
al-‘Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.
Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri,
Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi,
Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani,
Syekh Salm bin Abdullah al Basri,
Syekh Shiddiq bin Umar Khan,
Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy,
Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi,
Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal,
Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani,
Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal,
Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy,
Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari,
dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.
- MENETAP : Ramadhan 1186 H bertepatan dengan 1772M beliau kemabali kekampung halamanya martapura, (kalimantan selatan) lebih tepatnya desa dalam pagarSultan Tahmidullah II mengangkatnya sebagai mufti, bahkan sultan pun termasuk salah seorang muridnya.Syekh Muhammad Arsyad adalah pelopor pengajaran hukum Islam di Kalimantan Selatan. Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.
- KARYA : kitab karangan beliau yaitu Sabil al-Muhtadin, Tuhfat ar-Raghibiin, al-Qaul al-Mukhtashar, disamping kitab ushuluddin, tasawuf, nikah, faraidh dan kitab Hasyiyah Fath al-Jawad.
- WAFAT: tahun 1812 M dalam usia 105 tahun , Dimakamkan di Kalampayan, Astambul, Banjar, Kalimantan Selatan.
- KAROMAH : menurut cerita beliau membetulkan arah kiblat di Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Pekojan, hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan pemuka mesyarakat dan pemimpin muslim saat itu. Karenanya Gubernur Jenderal Belanda kala itu memanggil Arsyad, sekaligus untuk mempermalukannya di depan umum dengan salah satu pertanyaannya apakah isi kelapa yang sedang dipegang sang gubernur ,lalu beliau menjawab isi kelapa itu air dan di dalam air itu ada ikan, lalu hadirin tertawa mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu. Akan tetapi, setelah kelapa itu dibelah, memancarlah air dan keluarlah ikan yang masih hidup dari dalamnya, hadirin yang tertawa berubah menjadi takjub dan kagum melihat karomah yang dimiliki Syekh Arsyad.


